-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Cuaca Panas Yang Cukup Extreme Di Jabodetabek, Ini Penjelasan BMKG

Senin, 09 Mei 2022 | 5/09/2022 04:52:00 PM WIB
Foto Ilustrasi (Ist)

TRANSPANTURA - Akhir-akhir ini, sebagian wilayah Indonesia, utamanya Jabodetabek, dihadapkan dengan cuaca panas yang cukup ekstrem. Bahkan suhu panasnya sekitar 33 hingga 36°C.

Banyak masyarakat sekitar yang merasa cuaca panas ini lebih menyengat dibandingkan biasanya.

Deputi Bidang Meteorologi di BMKG, Guswanto mengungkapkan, suhu tertinggi terjadi di Tangerang dan Kalimarau, Kalimantan Utara.

“Berdasarkan data hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum selama periode tanggal 01–07 Mei 2022 berkisar antara 33-36.1°C. Dengan suhu maksimum tertinggi mencapai 36.1°C di wilayah Tangerang dan Kalimarau,” kata dia melalui pernyataan resminya, Senin (9/5/2022).

Ia mengatakan bahwa panas yang terjadi di wilayah Indonesia ini masih dalam skala variabilitas harian, bukanlah seperti fenomena gelombang panas.

“Fenomena gelombang panas biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika yang dipicu oleh kondisi dinamika atmosfer di lintang menengah. Sedangkan yang terjadi di Indonesia adalah fenomena kondisi suhu panas/terik dalam skala variabilitas harian,” ujarnya.

WMO (World Meteorological Organization) menjelaskan, gelombang panas atau ‘Heatwave’ merupakan sebuah fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut, dimana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C atau lebih.

Sementara cuaca panas belakangan ini lebih disebabkan karena posisi semu matahari sudah berada di wilayah utara ekuator, yang menandakan sebagian wilayah Indonesia masuk musim kemarau.

"Dimana tingkat pertumbuhan awan dan fenomena hujannya akan sangat berkurang, sehingga cuaca cerah pada pagi menjelang siang hari akan cukup mendominasi,” jelas Guswanto.

Lebih lanjut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan tetap mencukupkan cairan tubuh agar tidak berdampak buruk pada kondisi tubuh masyarakat.

“Terutama bagi warga yang beraktifitas di luar ruangan pada siang hari dan juga warga yang akan melaksanakan perjalanan mudik atau mudik balik supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan dan dampak buruk lainnya,” jelas Guswanto. (Red)
PASANG IKLAN
×
Beri Dukungan Tekan ini