![]() |
| Foto : Tangkapan layar dibalik group Facebook GAY KEMIRI dan Group Gay Kemiri, Mauk, Rajeg, Pasar Kemis, Kronjo, Kabupaten Tangerang |
TANGERANG, TRANSPANTURA.COM - Komunitas gay di kawasan Kemiri dan Rajeg, Kabupaten Tangerang, memanfaatkan sebuah grup Facebook sebagai ruang pertemuan dan interaksi daring. Grup yang menampung 4.059 akun tersebut mencatat aktivitas 150 hingga 160 anggota pada jam-jam tertentu, menjadikannya bukan hanya forum, tetapi komunitas tersembunyi yang hidup di tengah masyarakat.
Dalam pemantauan selama satu pekan terakhir, grup ini tampak berfungsi sebagai ruang curhat, pencarian jati diri, hingga wadah mencari pasangan atau teman kencan. Sejumlah unggahan memperlihatkan anggota secara terbuka menawarkan ajakan bertemu, termasuk menyediakan tempat.
Salah satu postingan datang dari akun Joy Long yang menulis, “Yuuu kuy rumah sepi,” sekitar 19 jam lalu. Unggahan serupa dibuat akun Peserta Anonim tiga minggu sebelumnya: “Stay Rajeg mana mmpung ada tempat nih.”
Akun lain, Gemini Boy, mengajak anggota yang berdomisili di berbagai kecamatan sekitar. “Yang di Kemiri Mauk Rajeg mana nih yuk main,” tulisnya.
Tidak semua unggahan berupa ajakan bertemu. Sebagian menampilkan keluhan atau kriteria pasangan tertentu. Akun Randy Saputra misalnya, menulis, “Masih belum dapet, nyari bf top yg berotot.”
Unggahan terbaru datang dari akun Orange Tersakiti, dua jam lalu. “Hayu atu yg ada tempat, yg kurus2 ajh. Seumuran. Udah lama ga berantem,” tulisnya. Istilah berantem dalam konteks tersebut diduga bermakna lain, bukan sekadar bertengkar.
Secara terpisah, aktivis sosial Suparji Rustam mengungkapkan bahwa penggunaan aplikasi digital sebagai sarana pertemuan komunitas sesama jenis kini kian marak. Menurut pria yang akrab disapa Rustam itu, dua aplikasi yang paling sering digunakan adalah Walla dan Hornet.
“Walla dan Hornet ini bukan sekadar aplikasi chat biasa, tetapi sudah semacam aplikasi populer di kalangan gay untuk bertemu dan berinteraksi,” ujarnya, dikutip bantenekpres.co.id, Minggu, 30/11/2025.
Rustam menekankan perlunya pengawasan orang tua dan edukasi digital untuk mencegah generasi muda terpapar dampak negatif dari aplikasi pertemanan yang berorientasi pada kencan sesama jenis tersebut. (*)


