![]() |
| Ilustrasi - Bendahara Bumdes Kemiri mengundurkan diri. /Generated By OpenAi. |
TANGERANG, TRANSPANTURA.COM - Sepertinya "Sukses Bersama" hanyalah sekadar nama bagi BUMDes Kemiri di Kabupaten Tangerang. Alih-alih merayakan kesuksesan ekonomi kerakyatan, badan usaha ini justru sedang merayakan "eksodus" pengurusnya. Jubaedah, sang bendahara, secara resmi memilih angkat kaki dari lingkaran penuh drama tersebut.
Alasannya klasik namun pedas: rasa tidak nyaman yang sudah mencapai ubun-ubun. "Saya ingin fokus pada kegiatan sendiri saja," ujar Jubaedah singkat, seolah mengisyaratkan bahwa mengurus urusan pribadi jauh lebih logis daripada mengurus organisasi yang kondisinya lebih berantakan daripada pasar tumpah.
Hal yang paling mengagumkan dari konflik ini adalah kemampuan "ajaib" dalam pengelolaan anggaran. Berdasarkan data yang beredar, dana BUMDes yang awalnya gagah perkasa di angka Rp340 juta, mendadak menciut secara tragis menjadi Rp3,9 juta di penghujung tahun 2025. Sebuah efisiensi yang sangat luar biasa, atau mungkin sebuah misteri alam yang belum terpecahkan.
Ketua BUMDes Kemiri, Alvian, tampak seperti kapten kapal yang baru sadar kapalnya bocor tapi tidak tahu siapa yang mengambil sekoci. Ia mengaku tidak pernah menyentuh, apalagi mencicipi dana tersebut.
"Tiba-tiba sisa anggaran hanya Rp3,9 juta. Kami sepakat tidak mengambil sisa uang itu, daripada nanti kami yang pusing menjelaskan ke mana larinya ratusan juta sisanya," sindir Alvian lewat pesan singkat, Rabu, 21 Januari 2026.
Kepala Desa Pasif, Pengurus Patah Hati Selain urusan uang yang "menguap" entah ke mana, faktor utama bubarnya kemesraan ini adalah sikap Kepala Desa yang dianggap terlalu pasif mungkin saking pasifnya hingga menyerupai patung dekorasi desa. Pengurus merasa semangat mereka untuk memajukan ekonomi desa hanya dianggap sebagai angin lalu, atau lebih buruk lagi, dianggap sebagai "pengemis" yang sedang meminta jatah.
Dukungan konkret yang diharapkan tak kunjung datang, sementara transparansi keuangan hanya menjadi mitos belaka. Alhasil, dedikasi para pengurus yang awalnya membara kini padam total, menyisakan kekecewaan yang lebih besar daripada saldo yang tersisa di rekening BUMDes.
Kini, dengan mundurnya bendahara dan potensi mundurnya pengurus lain, BUMDes Kemiri sukses menjadi contoh nyata bagaimana sebuah harapan besar bisa hancur hanya karena kurangnya komunikasi dan "sulap" anggaran yang tidak lucu sama sekali. (*)
Sumber Artikel berjudul " Saldo BUMDes Kemiri Menguap Ajaib: Dari Ratusan Juta Jadi Sisa Recehan, Bendahara BUMDes Kemiri Mundur " Tayang di Tangerang Kota Pikiran Rakyat
selengkapnya dengan link: https://tangerangkota.pikiran-rakyat.com/metropolitan/pr-3479955280/saldo-bumdes-kemiri-menguap-ajaib-dari-ratusan-juta-jadi-sisa-recehan-bendahara-bumdes-kemiri-mundur

